Sabtu, 03 November 2012

Jatuhnya Pemerintahan Orde Baru


Kronologi Jatuhnya Pemerintahan Orde Baru

       Kronologi peristiwa reformasi 1998 :
  •   Aksi Mahasiswa Mulai Bermunculan

Krisis multidimensional yang terjadi di Indonesia mendorong mahasiswa untuk mengadakan aksi demonstrasi. Pada awalnya, aksi demonstrasi hanya digelar di dalam kampus saja, namun semakin lama para mahasiswa berdatangan ke DPR untuk menggelar aksi demonstrasi.
          Menjelang tahun 1998, aksi-aksi demonstrasi meningkat dan melibatkan dosen serta alumni. Seperti contoh alumni dan mahasiswa Universitas Indonesia dalam aksinya di Kampus Salemba diikuti para rektor UI Prof. dr. Mahar Mardjono, Dr. Sri Edi Swasono, Prof. Dr. Selo Soemardjan, dan ketua umum Iluni UI, Hariadi Darmawan.
          Tema yang dituntut dalam aksi-aksinya itu adalah turunkan harga-harga barang khususnya barang sembilan bahan pokok; hapuskan monopoli dan KKN (Korupsi, kolusi, dan nepotisme); serta suksesi kepemimpinan nasional. Ketika Presiden Soekarno terpilih kembali menjadi presiden untuk ketujuh kalinya, masa bakti 1998-2003, tanggal 11 Maret 1998, aksi demonstrasi pun semakin meningkat, mereka menuntut agar Presiden Soekarno mundur dari jabatannya.
          Aksi-aksi mahasiswa semakin marak sejak awal tahun1998. Tuntutan reformasi tidak digubris pemerintah. Pada tanggal 4 Mei 1998, pemerintah memutuskan untuk menaikan harga BBM dan tarif dasar listrik. Hal itu memicu aksi-aksi reformasi semakin meluas. Korban pun mulai berjatuhan.

  • 2.    Empat Mahasiswa Trisakti Tewas Tertembak

Maraknya aksi reformasi akhirnya menimbulkan korban jiwa, baik di kalangan aparat ataupun mahasiswa. Pada tanggal 9 Mei 1998, Letnan Dua (Pol) Dadang Rusmana, kepala satuan Intelijen Kepolisian Resor Bogor, tewas dalam aksi keprihatinan di Universitas Juanda, Bogor.
Pada tanggal 12 Mei 1998, empat mahasiswa Trisakti tewas terkena tembakan aparat keamanan. Keempat mahasiswa itu adalah Elang Mulia Lesmana, Hendriawan Sie, Heri Hartanto, dan Hafidhin Alifidin Royan. Mereka diberi gelar sebagai pahlawan Reformasi. Peristiwa tewasnya keempat mahasiswa itu telah menimbulkan duka sekaligus kemarahan dalam masyarakat Indonesia. Gerakan reformasi pun semakin meningkat. Kerusakan itu terjadi di setiap sudut kota di Indonesia.

  • 3.    Kerusuhan Massal di Jakarta dan Sekitarnya

Pada tanggal 13 Mei 1998 terjadi aksi kerusuhan massal di Jakarta. Hal itu disebabkan aparat mencegah rombongan massa yang ingin mengadakan aksi berkabung pasca tewasnya 4 mahasiswa Trisakti. Massa merusak, melempar, membakar, dan menjarah mobl-mobil, gedung-gedung hingga pertokoan.
Pada tanggal 15 mei 1998, presiden suharto tiba kembali di indonesia dari kairo. Jadwal kepulangan tersebut dimajukan sehari karena jadwal semula setelah mempertimbangkan kondisi dalam negeri yang semakin buruk.
Pada 16 mei 1998, presiden soeharto mengadakan pertemuan dengan pimpinan dpr. Dari hasil pertemuan tersebut dijelaskan oleh ketua dpr yaitu harmoko, mengenai 3 langka yang akan di tempuh oleh presiden soeharto.
a.    Melindungi hak hidup warga negara, mengamankan harta dan hak milik rakyat,mengamankan pembangunan dan aset nasional, memelihara persatuan dan kesatuan bangsa, serta mengamankan pancasila dan UUD.
b.    Menjalankan reformasi di segala bidang.
c.    Mengadakan resufle kabinet pembanguna VII
Pada tanggal 18 mei 1998, aksi reformasi di gedung DPR/MPR semakin meningkat. Ribuan mahasiswa dan tokoh-tokoh pro reformasi seperti amien rais, A.M. Fatwah, Prof.Dr.Soleh Solahudin ikut serta dalam aksi tersebut.
Dalam aksi di gedung DPR/MPR tuntutan agar presiden Soeharto mengundurkan diri. Para tokoh tersebut juga akhirnya ikut menemui pimpinan DPR untuk menyampaikan tuntutan reformasi. Akhirnya ketua DPR harmoko dengan di dampingi para wakil ketua DPR mengeluarkan pernyataan yang di minta agar presiden Soeharto mengundurkan diri.
Kemudian muncul berita lain yaitu pengunduran diri 14 menteri kabinet pembangunan VII dan menolak pencalonan kembali dalam reshuffel kabinet.

Ke empat belas menteri itu adalah :
1.     Ir. Akbar Tandjung
2.     Ir. Drs. A.M. Hendropriyono
3.     Prof. Ginandjar Kartasasmita
4.     Ir. Giri Suseno
5.     Dr. Haryanto Dhanutirto
6.     Ir. Rachmadi Bambang S
7.     Prof. Dr. Ir. Rahardi Ramelan
8.     Subiakto Tjakrawerdaya
9.     Sanyoto Sastrowardoyo
10.  Ir. Sumanhadi
11.  Prof. Dr. Ir. Justika S Baharsjah
12.  Dr. Ir. Kuntoro
13.  Drs. Theo sambuaga
14.  Tanri Abeng, MBA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar